Beberapa hari yang lau, seorang teman masa kecil sempat berkata, “Beruntung sekali hidupmu El, sejak kecil hingga sekarang semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan dengan mudah. Sepertinya jalan hidupmu lancar2 saja tanpa hambatan.”
Saya terdiam sejenak, bingung harus berkata apa dan sejujurnya saya tengah mencoba meresapi kembali kata2 sang teman.
Kemudian lanjutnya, “Sejak kecil, kamu dikagumi banyak orang dg semua talent yg kamu punya. Sampai sekarangpun kamu tetap mengagumkan. Kamu bisa memilih sendiri perguruan tinggi negeri mana yg akan kamu masuki, bukan seperti saya yang terpaksa mengandalkan ortu untuk masuk di salah satu jurusan extension di PTN, karna tak satupun saya lolos seleksi PTN dg hasil sendiri. Selain itu, kamupun bahagia sekali memiliki keluarga yang sedemikian, orang tua yang sangat mencintaimu dan seorang adik yang selalu jadi kebanggaanmu, tidak seperti saya yang harus rebutan kasih orang tua dg adik2 saya, karna sayapun bukan putri mereka satu2nya. Kamupun bisa memilih sendiri pria mana yang kamu inginkan, dengan kondisi jika saya jadi kamu, tentu saya akan sangat bingung memilih satu dari beberapa pria terbaik yang bisa kau miliki dengan mudah.”
Saya hanya tersenyum kecil sembari menarik nafas.
Teman, seandainya kamu jadi saya dan saya jadi kamu, mungkin tak akan pernah ada kalimat seperti itu.
Ladang tetangga akan selalu terlihat lebih hijau, tanpa kita mampu menggarapnya jika ladang itu menjadi milik kita.
Hari ini mungkin kamu mengagumi kehidupan saya, tapi jika kamu masuk dan menjalani kehidupan seperti saya, atau saya menjadi kamu, saya tak yakin kita mampu bertukar peran dalam waktu yang lama
Oke, sekilas saya ceritakan kehidupan pribadi saya
Sejak kecil, mungkin saya hanya beruntung karna kamu mengagumi semua prestasi dan piala2 saya.
Tapi kamu tak merasakan sakitnya ketika beranjak dewasa dan piala2mu tak lagi memberi nama, karna masa ditelan usia.
Perlu satu hentakan yang keras, sangat keras untuk kembali meraih masa gemilang seperti dulu. Dan hingga hari ini, saya bukan lagi seseorang yang kamu kagumi di masa lalumu itu.
Mungkin dulu saya beruntung karna pernah menjadi seorang aktivis yang sungguh (sempat) mereguk indahnya hidayah dan merasakan nikmatnya bercinta dengan ayat2 Al-Qur’an.
Tapi kamu tak merasakan sakitnya ketika tersadar hidayahmu luput dari genggaman dan kau kembali terjebak dalam kejahiliyaan.
Meski ada yg bilang mustahil seorang akhwat dapat tenggelam dalam futur begitu saja, tapi inilah kenyataannya, sayapun menyesali itu, sungguh sangat menyesal
Memang benar, Iman itu bak selembar tisu, bisa kotor, bisa ternodai, bisa sobek, bisa hancur berkeping-keping.
Untuk itu, waspadalah selalu hai teman, jangan kau sombong dg Imanmu hari ini!
Sekali lagi, mungkin saya memang beruntung karna selalu dicintai oleh pria2 baik lagi baik-baik.
Tapi kamu tak merasakan sakitnya dituding sebagai “cewek matre”.
Meski semua hanya kebetulan, tapi harus saya akui bahwa menjalin hubungan dg pria tampan lagi kaya bukanlah satu hal yg mampu membawa saya pada kebahagiaan seperti yang kamu bayangkan.
Kamupun tak merasakan sakitnya untuk menyakiti hati seseorang ketika harus memilih satu yang terbaik dari semua pilihan yang ada.
Mungkin saya memang terkesan manja dg semua belaian dan limpahan kasih orang tua dan tak harus rebutan kasih dengan saudara, krn saya memang hanya memiliki satu orang saudara dan itu lelaki yang tak mungkin selalu bergelantung manja.
Tapi kamu tak merasakan sepi yang membuat masa kecilmu tak berwarna dg tawa bersama saudara, karna adikku lahir ketika masa bermainku hampir usai.
Dan kamu tak merasakan perih ketika ibumu meminta dg penuh iba “jangan menikah dulu, Nak. Ibu masih ingin bersamamu, membelaimu dalam kasih ibu”, karna memang beliau tak memiliki tempat selain diriku untuk mencurahkan semua kasihnya yg berlimpah.
Dan mungkin, lagi2 saat ini saya tengah beruntung dengan apa yang saya miliki saat ini, seorang laki2 yg luar biasa sabar dg usaha yg luar biasa keras dan cinta yang luar biasa besar untukku.
Tapi lagi2 kamupun tak merasakan sakitnya ketika menghadapi ujian demi ujian dalam hubunganmu, ketika hubunganmu diusik secara bertubi2 oleh seseorang dari masa lalu kalian berdua, ketika cinta kalian diuji oleh kemiskinan yg amat getir, ketika cinta harus berhadapan dg opini publik, ketika cinta harus bersaing dg ketakutan sang ibu.
Teman, Bayanganmu saya bahagiakah????
Yah, sesungguhnya saya memang bahagia dengan semua yang saya alami di hidup ini, sangat bahagia
Tapi saya bahagia bukan karna apa yang saya miliki, saya bahagia karna telah berhasil melewati ujian Tuhan untuk hidup saya.
Bersyukur atas apa yang telah diraih dan berusaha memperjuangkan apa yang layak dipertahankan untuk hidupmu.
Percayalah teman, jangan pernah mengira rumput tetangga lebih hijau sebelum kau mencoba menggarap dan menyuburkan ladangmu sendiri!!!



